Kami Berbeda, Terus?
Ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Bandung, Jawa Barat, saya segera merasakan bahwa daerah ini berbeda dengan daerah saya tinggal sebelumnya. Kalau dulu saya sering mendengar orang-orang di kota asal saya berbicara dengan nada tinggi, di sini jauh lebih halus. Saya sudah terbiasa dan bahkan ikut-ikutan berbicara dengan nada tinggi (karena memang begitu watak aslinya orang-orang di daerah saya dan sudah menjadi hal yang biasa), saya sadar bahwa saya harus beradaptasi lagi untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan orang-orang di daerah sini. Singkatnya, saya berbeda dengan orang-orang disini entah itu latar belakang asal-usulnya, dan lain-lain.
Saya kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung, di mana perguruan tinggi ini ‘berisi’ orang-orang yang datang dari seantero negeri ini, bahkan ada yang datang dari luar negeri.
Setelah berteman dengan teman-teman dari fakultas saya dan juga teman-teman dari fakultas lain yang juga berbeda latar belakangnya dengan saya dan teman-teman lain, saya merasa harus menyesuaikan diri dengan hal baru ini.
Pertemanan saya dengan orang-orang yang berasal dari ujung Sumatera hingga Papua, dengan budaya dan agama yang berbeda-beda, merupakan hal yang baru dalam kehidupan saya. Saya pernah berkata dalam hati, “Beginikah perbedaan itu? Asik juga melihat mereka yang punya budaya dan ciri khas tersendiri”. Saya sendiri berasal dari kota Medan yang notabene merupakan suku asli Batak Karo dan merasa sangat istimewa ketika berteman dengan orang-orang yang jauh sekali berbeda dengan diri saya. Jujur saya merasa ‘hebat’ bisa berteman dan bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman yang berasal dari Aceh, Palembang, Siantar, Batam, Riau, Jambi, Jakarta, Bandung, Sukabumi, Bali, Makassar, Kalimantan, hingga Papua, bahkan Timor Leste. Kami sendiri punya perbedaan SARA yang sangat mencolok; ada yang merupakan suku Batak asli, suku Dayak, suku Jawa, suku Sunda, Bali, Aceh, Tiong Hoa, Papua, bahkan ada yang asli WNA Timor Leste. Kami semua memiliki agama yang juga berbeda-beda, saya dan teman-teman yang lain misalnya beragama Katolik, ada yang Islam, ada yang Hindu, ada yang Kristen Protestan, dan ada juga yang Buddha.
Menurut saya pribadi, jujur, perbedaan ini adalah sesuatu yang sangat istimewa. Biasanya dulu saya hidup dalam lingkungan yang notabene memiliki persamaan hampir secara keseluruhan (walaupun beberapa beda, tetapi kebanyakan sama), tetapi kehidupan saya di perantauan ini merupakan hal yang baru yang patut saya syukuri. Saya dapat hidup dalam perbedaan seperti sekarang ini, bahkan hidup bersama layaknya keluarga/bersaudara meskipun mungkin akan bertahan sampai kami lulus dari perkuliahan kami (karena akan berpisah-pisah setelah lulus nanti), tapi mudah-mudahan dapat bertahan terus selama-lamanya.
Pertemanan kami dalam segala perbedaan itu bukan menjadi alasan kami untuk terpecah, malahan membuat kami semakin akrab dan semakin menghargai perbedaan yang ada. Saya dan teman-teman lain mengontrak satu rumah yang berisi 7 orang yang memiliki perbedaan suku, agama, dan sebagainya. Kami bertujuh ini, saya dan 2 orang teman lain beragama Katolik, 2 beragama Protestan, dan 2 orang lainnya beragama Islam. Saya suku Batak Karo, 3 orang yang lain suku Batak Toba, 1 orang Timor Leste, 1 orang Sunda, dan 1 lagi campuran antara Tiong Hoa dan Batak Toba-Belanda. Kami berbeda, tetapi kami bisa hidup bersama di perantauan ini. Malah kami berasal dari daerah yang berbeda-beda, tetapi seluruh perbedaan itu tidak menjadi alasan kami untuk saling terpecah, saling membenci satu dengan yang lain, tidak saling menjelekkan, dan juga tidak menganggap seluruh perbedaan yang kami punya menjadi alasan untuk memusuhi satu dengan yang lain.
Mengapa harus terpecah hanya karena perbedaan yang kita punya? Bukankah tidak akan ada ‘persatuan’ tanpa ‘perbedaan’? Apa yang akan ‘disatukan’ jika semuanya ’sama’? Perbedaan bukan menjadi alasan kita untuk terpecah, dengan segala perbedaan kitalah maka kita dapat bersatu.
Saya merasakan betapa indahnya perbedaan itu, betapa istimewanya diri saya dapat hidup dalam perbedaan itu, betapa saya mensyukuri hal tersebut karena ‘punya kesempatan’ untuk hidup dalam perbedaan seperti ini, dengan perbedaan ini juga saya tidak harus berpikir bahwa apa yang saya punya lebih baik daripada mereka yang berbeda dengan saya. Justru segala perbedaan itu baik adanya, dan sangat spesial terasa. Terkadang saya bingung terhadap orang-orang di luar sana yang mengatasnamakan ‘PERBEDAAN’ untuk saling bermusuhan, saling menyakiti bahkan saling membunuh, dan tindakan-tindakan lain yang melanggar hak asasi manusia.
Perbedaan bukan menjadi alasan kita untuk ‘terkotak-kotak’. Perlu diketahui bahwa kita semua sama dan sederajat di mata Tuhan; entah apapun yang kita punya, entah apapun perbedaan diri kita dengan yang lain, dan segala hal yang ada di dunia ini. Perlu kita ketahui juga bahwa Tuhan menurunkan hujan untuk semua ciptaan-Nya, Tuhan menerikkan matahari untuk kita semua, Tuhan memberikan kehidupan untuk kita semua, dan semuanya itu diberikan untuk kita walaupun kita berbeda. Tuhan tidak memandang ‘PERBEDAAN’, lalu mengapa kita mempermasalahkan perbedaan tersebut?
Kami berbeda, bukan berarti kami tidak dapat bersatu. Malah dalam pertemanan kami dengan seluruh perbedaan yang ada, kami tetap akrab hingga kini dan mudah-mudahan hingga selamanya. Kami saling mengasihi satu dengan yang lain, kami saling mendukung dan membantu, serta hal-hal sebagai cerminan bahwa kami adalah sesama manusia.
Mudah-mudahan cerita saya mengenai pertemanan kami yang memiliki ‘perbedaan’ menjadi inspirasi dan dapat diterapkan dalam kehidupan sosial khususnya di negeri ini. Mudah-mudahan ‘perbedaan’ bukan berarti ‘perpecahan’, mudah-mudahan ‘perbedaan’ bukan alasan untuk saling membenci, saling menyakiti, dan saling memusuhi. Ingat, Tuhan memberikan kehidupan bagi segalanya, termasuk orang-orang yang ‘berbeda’ dengan saya dan yang ‘berbeda’ dengan Anda. Salam blogger Indonesia!
Sumber Gambar: http://oziq.blogspot.com/2008/08/perbedaan-itu-anugrah.html









Nothing to say but Cool!!!!!
[Reply]
walterr Reply:
Februari 12th, 2012 at 12:38 AM
thank you very much
[Reply]
berbeda beda tapi tetep satu gan…
[Reply]
walterr Reply:
Februari 12th, 2012 at 12:35 AM
yup! itulah intinya
[Reply]
perbedaan adalah kekayaan yang mesti dirawat dengan baik agar tidak menimbukan perpecahan….nice post,
[Reply]
walterr Reply:
Februari 13th, 2012 at 10:50 AM
ya benar sekali
perbedaan itu hal yang sangat spesial. Terima kasih komentarnya
[Reply]
kalau tidak ada “perbedaan” di dunia ini, maka hidup ini sangat membosankan
[Reply]
walterr Reply:
Februari 13th, 2012 at 12:00 PM
yup benar sekali
terima kasih komentarnya
[Reply]